)
Kalau benarlah itu yang di namakan cinta,
mengapa aku terasa siksanya?
Kalau betul itulah yang orang kata cinta,
mengapa aku rasa begitu perit menikmatinya?
Andai benarlah cintaku tulus,
teluskanlah hatinya untukku.
Andai betul cintaku ikhlas,
ikhlaskanlah hatinya untuk menerimaku.
Ah, cinta itu banyak dugaannya
sepertia jua cintaku padamu.
Kenapa perlu ada rintangan dalam sebuah perhubungan,
kalau ia sebenarnya hanya akan melukakan?
Kenapa perlu ada curiga dalam pemikiran,
kalau ia cuma menyakitkan?
Kenapo pula ada rindu pada seseorang,
kalau kita bisa bertemu selalu?
Ah, cinta itu amat menyakitkan,
melukakan malah melelahkan diri seorang insan?
Terkadang ingin saja aku lari dari rasa cinta itu,
supaya aku bebas diri dari memikirkanmu.
Semula,
aku terasa mahu saja sembunyi dari segala permasalahan cinta ini,
bila nanti hatiku kan damai.
Seketika,
aku terfikir untuk pergi jauh dari kehidupan yang penuh ranjau,
agar aku bisa tenang.
Aku mungkin celik,
namun hakikatnya aku buta.
Buta kerna tak mengenal tulusnya cintamu.
Aku mungkin becok,
tapi sebenarnya aku bisu
untuk luahkan rasa cintaku yang tulus padamu.
Aku mungkin jelas,
namun aku realitinya pekak
kerna tak pernah mahu mendengar luahan cinta darimu.


No comments:
Post a Comment